Hakikat Islam dan Iman
Hakikat Islam dan Iman adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minnah ‘Alim Ar-Raqib. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 11 Dzulqa’dah 1447 H / 28 April 2026 M.
Kajian Tentang Hakikat Islam dan Iman
سَلُونِي عَمَّا شِئْتُمْ
“Tanyakanlah kepadaku apa yang kalian kehendaki.” (HR. Baihaqi)
Maka seorang laki-laki bertanya dengan suara keras mengenai hakikat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab bahwa Islam adalah menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Orang tersebut kemudian bertanya tentang hakikat iman, yang dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa iman adalah keikhlasan, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pertanyaan berikutnya adalah mengenai hakikat yakin. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa yakin adalah membenarkan akan adanya hari kiamat.
Pentingnya Beriman kepada Hari Akhir
Manusia hidup di dunia hanya sampai batas waktu tertentu, kemudian akan diwafatkan dan dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat. Beriman kepada hari akhir merupakan salah satu dari enam rukun iman. Keimanan seorang hamba tidak dianggap sah kecuali jika ia mengimani seluruh rukun iman tersebut, termasuk hari kiamat.
Pengetahuan yang mendalam dan perinci mengenai peristiwa-peristiwa pada hari kiamat akan memantapkan iman serta menambah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini menjadi dorongan kuat bagi seseorang untuk memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan abadi.
Iman kepada hari kiamat membuka pintu harapan (raja‘) sekaligus rasa takut (khauf) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam hati seorang hamba. Kedua rasa ini sangat penting bagi stabilitas hati seorang mukmin. Tanpa adanya keseimbangan antara rasa takut akan azab Allah dan harapan akan rahmat-Nya, hati seseorang akan mengalami kerusakan. Keyakinan yang teguh terhadap hari kiamat membangkitkan kesadaran hamba untuk senantiasa berharap pada pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla serta takut akan siksa-Nya. Kesadaran inilah yang menggerakkan jiwa untuk istiqamah dalam melaksanakan amal-amal ketaatan di dunia.
Melalui keimanan ini, seorang mukmin memahami karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa serta keadilan-Nya dalam memberikan balasan terhadap amal saleh maupun amal keburukan. Keyakinan tersebut membawa hamba pada kesimpulan akan kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga ia senantiasa memuji dan menyanjung-Nya.
Iman kepada hari akhir juga berfungsi sebagai penghibur bagi seorang mukmin atas kenikmatan duniawi yang tidak diperolehnya, baik berupa harta maupun jabatan. Ia tidak merasa rugi karena berharap mendapatkan ridha, cinta, dan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak sebagai ganti atas apa yang hilang di dunia.
Tiga Perkara Penjaga Hati Mukmin
Dalam peristiwa Haji Wada, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan arahan penting kepada para jemaah haji. Beliau mendoakan orang yang mendengar, memahami, dan menyampaikan perkataan beliau agar wajahnya diberikan cahaya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau bersabda:
نَضَّرَاللهُ امرءاً سمع مقالتي فَوَعاها، فَرُبَّ حاملِ فقهٍ ليس بفقيه
“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seseorang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya. Karena betapa banyak orang yang membawa ilmu agama, ucapan-ucapan, namun dia sendiri bukan seorang faqih (orang yang benar-benar paham).” (shahih lighhairihi dalam kitab At-Targhib wa Tarhib)
Lebih lanjut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tiga perkara yang menyebabkan hati seorang mukmin bersih dari sifat hasad dan dengki:
- Ikhlas dalam Beramal: Mengikhlaskan seluruh amal ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
- Menasihati Pemimpin: Senantiasa memberikan nasihat dengan penuh keikhlasan kepada para pemimpin kaum muslimin.
- Menjaga Jemaah: Berupaya tetap berada dalam jamaah kaum muslimin dan tidak keluar atau memisahkan diri dari mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menutup dengan penjelasan bahwa doa jemaah akan meliputi dan membentengi kaum muslimin dari arah belakang mereka. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bazzar dengan sanad yang hasan. Imam Al-Albani Rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini berstatus sahih lighhairihi. Hadits dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu tersebut mengandung banyak pelajaran berharga (fawaid). Pelajaran pertama adalah perintah untuk menyampaikan dakwah yang hak kepada manusia berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Penyampaian sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya sangat penting agar agama ini tersebar luas. Di sinilah peran orang-orang berilmu untuk menyampaikan risalah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya kepada umat manusia. Tujuannya adalah agar manusia mengenal Allah ‘Azza wa Jalla serta Rasul-Nya, dan mengetahui jalan kebenaran yang membawa kebaikan di dunia maupun akhirat.
Hadits sebagai Petunjuk Terbaik
Hadits ini mengandung anjuran yang sangat kuat untuk menjaga dan menyampaikan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini dikarenakan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.” (HR. Muslim)
Hadits tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’anul Karim. Keduanya merupakan dua prinsip utama yang dimiliki oleh kaum muslimin dalam beragama.
Doa Rasulullah bagi Penjaga Hadits
Hadits ini menjelaskan tentang doa khusus dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi setiap orang yang mendengarkan, menghafal, dan menyampaikan hadits-hadits beliau kepada umat. Doa ini berlaku bagi para sahabat yang menyampaikannya kepada tabiin, lalu kepada tabiut tabiin, hingga sampai kepada generasi hari ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا
“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya.” (Shahih lighhairihi dalam kitab At-Targhib wa Tarhib)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “mendengar perkataanku” mencakup tiga hal, yaitu:
- Sunnah Qauliyah: Ucapan-ucapan yang keluar dari lisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
- Sunnah Fi’liyah: Perbuatan-perbuatan dan amalan yang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
- Sunnah Taqririyah: Ketetapan atau pembenaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap perbuatan sahabat yang beliau ketahui.
Integritas dalam Menyampaikan Risalah
Seseorang yang mendapatkan doa tersebut adalah mereka yang benar-benar menjaga amanah dalam penyampaian. Setelah mendengar atau mengetahui sunnah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka menyampaikannya kepada orang lain sebagaimana aslinya. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan risalah secara benar sesuai dengan apa yang mereka dengar. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kriteria orang yang mendapatkan keutamaan adalah ia yang mendengar ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu menghafalnya. Hal ini menunjukkan betapa para sahabat sangat mencermati, memperhatikan, dan mendengarkan setiap hal yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kemudian disampaikan kepada umat.
Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengar apa yang aku ucapkan,” merupakan doa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memperoleh rupa fisik serta memuliakan kedudukan hamba tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا
“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seseorang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya.” (Shahih lighhairihi dalam kitab At-Targhib wa Tarhib)
Tingkatan Pemahaman dalam Ilmu Hadits
Terdapat pelajaran penting mengenai perbedaan tingkat pemahaman diantara pembawa ilmu. Banyak orang yang mampu menghafal satu ucapan, ayat, atau hadits, namun mereka kurang memahami kandungan maknanya. Mereka menghafal sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan lisannya, lalu menyampaikannya kepada orang lain yang mungkin memiliki pemahaman lebih dalam.
Kondisi ini merujuk kepada para ulama yang mampu mengambil kesimpulan atau istinbat dari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Boleh jadi seorang sahabat menyampaikan apa yang didengarnya kepada seorang tabiin, dan tabiin tersebut memiliki pemahaman yang lebih tepat sehingga mampu menguraikan hadits tersebut secara mendalam. Fenomena inilah yang menyebabkan ilmu hadits berkembang pesat melalui penjelasan para ulama.
Keutamaan Ahli Hadits dan Syarat Penerimaan Amal
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi para ulama ahli hadits. Mereka adalah golongan pertama yang berhak mendapatkan doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selain itu, naskah ini menegaskan kewajiban untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ikhlas merupakan salah satu dari dua syarat diterimanya amal, di samping mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Hadits ini juga mengandung perintah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar sesama kaum muslimin saling menasehati demi menjaga keutamaan dan kemurnian agama. Ulama kaum muslimin memiliki kewajiban untuk memberikan nasihat kepada para pemimpin serta kepada rakyat secara umum. Terdapat perintah untuk luzum jamaatil muslimin, yaitu senantiasa berpegang teguh kepada jemaah kaum muslimin dan tidak memberontak kepada penguasa yang sah (ulil amri). Dalam akidah Ahlussunnah Waljamaah dan manhaj Salafus Saleh Radhiyallahu ‘Anhum, tindakan memberontak kepada penguasa yang telah disepakati tidak dibenarkan. Sebaliknya, umat diperintahkan untuk bersatu, mendoakan, dan menasehati para pemimpin agar terjalin hubungan timbal balik yang baik demi memperkokoh keutuhan kaum muslimin.
Setiap muslim harus mewaspadai kemunculan kelompok-kelompok sempalan yang merusak kesatuan umat melalui propaganda. Di antara mereka terdapat golongan Khawarij yang mengafirkan penguasa tanpa dasar ilmu, melainkan hanya mengikuti hawa nafsu atau doktrin tanpa pemahaman yang benar. Penting untuk menjaga keluarga dan anak-anak agar tidak termakan propaganda yang bertujuan merusak hubungan antara umat dengan pemimpinnya.
Pertolongan Allah Melalui Kaum Duafa
Diriwayatkan dari Mus’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqas, dari ayahnya, Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa pernah terlintas dalam benak Sa’ad bahwa beliau memiliki keutamaan atau kelebihan di atas sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya. Mengetahui hal tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teguran dan nasihat agar Sa’ad tidak meremehkan orang-orang yang dianggap lemah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إنما يَنصرُ اللهُ هذه الأمةَ بضعيفِها؛ بدعوتِهم وصلاتِهم وإخلاصِهم
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanyalah lantaran orang-orang lemah di antara mereka; karena doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.” (HR. An-Nasa’i)
Pernyataan ini merupakan peringatan agar tidak merendahkan atau meremehkan kaum duafa atau lemah. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepada agama ini dan umat Islam salah satunya melalui wasilah doa, ibadah, serta keikhlasan orang-orang yang lemah tersebut. Setiap muslim hendaknya menghormati dan berbuat baik kepada kaum duafa karena kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadits ini berstatus sahih dan diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dengan redaksi yang senada.
Keutamaan Kaum Duafa dalam Kemenangan Umat
Hadits yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhu memberikan banyak pelajaran berharga. Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekhususan bagi kaum lemah dari kalangan mukminin dengan berbagai keutamaan, baik di dunia maupun di akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan amal ibadah dan doa kaum duafa sebagai salah satu sebab turunnya pertolongan bagi umat ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanyalah lantaran orang-orang lemah di antara mereka; karena doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.” (HR. An-Nasa’i)
Oleh karena itu, setiap muslim dilarang meremehkan mereka dan hendaknya melihat kaum duafa dengan kacamata penghormatan. Boleh jadi mereka jauh lebih mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dibandingkan mereka yang memiliki segalanya. Di sinilah pentingnya menanamkan sifat tawadhu atau rendah hati. Merasa lebih mulia dari orang lain dapat merusak jiwa seorang muslim, padahal hakikat kemuliaan seseorang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Standar Kemuliaan di Sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala
Hadits ini menjelaskan bahwa keutamaan hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala diukur berdasarkan ketakwaan, bukan berdasarkan harta atau kedudukan duniawi. Pandangan syariat terhadap kepribadian manusia menitikberatkan pada kualitas iman dan takwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat tampilan fisik atau kekayaan harta benda, melainkan melihat apa yang ada di dalam hati dan ketakwaan hamba-Nya. Hal ini juga memberikan pelajaran mengenai keutamaan melibatkan kaum lemah dalam perjuangan, karena doa dan keikhlasan mereka diharapkan menjadi wasilah kemenangan. Kaum duafa hendaknya diajak dan diperhatikan kebutuhannya, karena keberadaan mereka merupakan salah satu sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala memenangkan umat ini.
Memperbaiki Ibadah sebagai Landasan Pertolongan
Memperbaiki kualitas amal ibadah, membersihkan hati, dan meluruskan niat merupakan tonggak utama bagi datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sering kali manusia hanya fokus memperbaiki aspek ekonomi, rumah, atau status sosial demi mendapatkan pengakuan duniawi. Namun, manusia jarang melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki keikhlasan hati di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.
Padahal, aspek batiniah inilah yang menjadi perhatian utama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesuai dengan tuntunan hadits, perbaikan ibadah secara menyeluruh, baik dari segi tata cara maupun keikhlasan, adalah landasan asasi bagi kejayaan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Islam.
Hal utama yang dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah apa yang ada di dalam hati hamba-Nya. Setiap muslim perlu meluangkan waktu sejenak setiap hari untuk merenungkan diri, mengoreksi kekurangan dalam ibadah, serta menyadari dosa-dosa agar dapat diperbaiki. Kebanyakan manusia lebih sibuk memperhatikan dan memperindah hal-hal yang tampak secara lahiriah, sementara urusan hati yang tersembunyi sering kali ditelantarkan.
Berbahagialah orang yang senantiasa melakukan muhasabatun nafs atau introspeksi diri untuk membangun iman dan meningkatkan kualitas ketakwaan. Hal-hal lahiriah tidak akan pernah mencapai kesempurnaan karena manusia akan selalu merasa ada yang kurang. Oleh karena itu, meluruskan niat dan meningkatkan keikhlasan setiap hari merupakan sebuah keharusan agar amal ibadah diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemurnian Tauhid dan Bahaya Syirik
Diriwayatkan dari Ad-Dahhaq bin Qais al-Fihri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
أَنَا خَيْرُ شَرِيكٍ، فَمَنْ أَشْرَكَ مَعِي شَرِيكًا فَهُوَ لِشَرِيكِي
“Aku adalah sebaik-baik sekutu. Maka barang siapa yang menyekutukan Aku dengan sesuatu dalam amalnya, maka amalnya itu Aku serahkan kepada sekutunya.” (HR. Al-Bazzar)
Jika seseorang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu, baik itu nabi, wali, maupun makhluk lainnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menerima amal tersebut sedikit pun. Seluruh pahala amal tersebut akan diberikan kepada pihak yang disekutukan karena Allah ‘Azza wa Jalla Maha Kaya dan tidak membutuhkan sekutu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan seruan kepada seluruh manusia untuk mengikhlaskan amal hanya karena Allah ‘Azza wa Jalla semata. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima amal kecuali apa yang dilakukan secara murni untuk-Nya.
Seorang muslim dilarang menggabungkan niat ibadah antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kepentingan hubungan kekerabatan (rahim) atau demi menjaga pandangan manusia (wajah-wajah kalian). Jika seseorang berkata bahwa suatu amal dilakukan demi Allah dan demi silaturahmi, maka amal itu jatuh kepada kepentingan silaturahmi saja. Demikian pula jika diniatkan untuk Allah sekaligus untuk mencari muka di hadapan manusia, maka amal itu sepenuhnya menjadi milik manusia tersebut dan bukan Allah ‘Azza wa Jalla.
Hadits ini berstatus shahih lighairihi sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Al-Albani.
Pelajaran : Ikhlas sebagai Hakikat Agama
Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hakikat dan intisari dari agama ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amal yang tercampur dengan kotoran syirik, riya, maupun sumah. Inti dari ajaran Islam adalah memurnikan penghambaan hanya kepada-Nya semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa mengikhlaskan agama hanya untuk Allah adalah satu-satunya agama yang diterima oleh-Nya. Demi mewujudkan keikhlasan inilah Allah ‘Azza wa Jalla mengutus para rasul dari yang pertama hingga yang terakhir, serta menurunkan kitab-kitab suci kepada mereka. Hal ini telah disepakati oleh para ulama dan menjadi inti dari dakwah para nabi. Seorang hamba dituntut beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena beliaulah yang memiliki wewenang untuk mengajarkan tata cara beribadah yang benar.
Peringatan terhadap Riya dan Sumah
Hadits ini memberikan peringatan keras terhadap perbuatan riya dan sumah. Riya adalah melakukan amal agar dilihat oleh manusia kemudian dipuji, sedangkan sumah adalah melakukan amal agar didengar oleh manusia demi mendapatkan sanjungan. Penting bagi setiap muslim untuk senantiasa meluruskan niat, termasuk dalam aktivitas dakwah. Dakwah harus dilakukan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan untuk mengejar pujian manusia atau agar dianggap sebagai ustaz yang hebat, kuat manhaj, maupun kuat akidahnya.
Tujuan dakwah adalah menyeru manusia kembali kepada jalan Allah ‘Azza wa Jalla, bukan menyeru kepada diri sendiri atau hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125)
Tugas Dai dan Hakikat Hidayah
Tugas utama seorang dai atau mubalig adalah menyampaikan risalah Allah ‘Azza wa Jalla dengan penuh keikhlasan. Masalah manusia akan menerima atau menolak dakwah tersebut merupakan urusan Allah ‘Azza wa Jalla, karena hidayah sepenuhnya berada di tangan-Nya. Seorang dai tidak boleh memaksakan kehendak, sebab kewajiban utama hanyalah menyampaikan kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:
وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
“Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.” (QS. An-Nur [24]: 54)
Setiap mukmin dianjurkan untuk selalu mengikhlaskan niat dalam setiap ucapan dan perbuatan. Pelajaran penting dari naskah ini adalah setiap hamba harus waspada agar tidak terjebak dalam syirik kecil maupun riya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menerima ketulusan yang mutlak. Setiap mukmin harus senantiasa mengikhlaskan niat hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hakikat Kekayaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Kefakiran Manusia
Pelajaran hadits ini menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat yang Maha Kaya dari segala sesuatu. Dia tidak membutuhkan hamba-Nya maupun alam semesta ini, melainkan seluruh makhluk yang membutuhkan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fatir [35]: 15)
Manusia sangat memerlukan pertolongan, hidayah, petunjuk, rezeki, rahmat, serta ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan kemahakuasaan-Nya untuk menggantikan manusia dengan makhluk yang baru jika Dia menghendaki:
إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ
“Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu tidak sulit bagi Allah.” (QS. Fatir [35]: 16-17)
Oleh karena itu, seorang hamba harus menjauhkan diri dari sifat sombong dan senantiasa bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala perasaan merasa diri memiliki kelebihan.
Bahaya Niat yang Bercampur dan Perbuatan Riya
Pelajaran lainnya adalah barang siapa mengerjakan amal ibadah dengan niat yang bercampur, yakni ditujukan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus untuk selain-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amal tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan amal itu bagi selain-Nya karena Dia tidak membutuhkan ibadah yang dicampuradukkan dengan kesyirikan.
Amal yang dilakukan karena riya atau sekadar mencari pujian manusia adalah batil dan tertolak. Pelakunya tidak mendapatkan pahala sama sekali, melainkan justru mendapatkan dosa. Sebagai upaya perlindungan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah doa kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu agar terhindar dari syirik besar maupun kecil:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)
Kewajiban Ikhlas dan Standar Penerimaan Amal
Mengikhlaskan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perintah yang bersifat wajib. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima amal ibadah kecuali yang murni dilakukan hanya untuk-Nya dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Seseorang yang awalnya melakukan amal ketaatan dengan tulus karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun kemudian di tengah jalan ia menjadikannya juga untuk selain-Nya, maka kemurnian amalnya telah ternoda. Setiap amal yang dicampuri dengan tujuan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala akan ditinggalkan oleh-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima amal tersebut dan tidak memberikan balasan berupa pahala. Hal ini merupakan pelajaran penting dari hadits Ad-Dahhaq bin Qais al-Fihri Radhiyallahu ‘Anhu mengenai pentingnya menjaga kemurnian niat.
Pelajaran dari Hadits Abu Umamah Al-Bahili
Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘Anhu, seorang laki-laki datang menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bertanya mengenai seseorang yang berperang dengan dua tujuan: mengharapkan pahala sekaligus mengharapkan nama atau popularitas agar disebut sebagai pemberani. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pernyataan bahwa orang tersebut tidak mendapatkan apa-apa.
Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap menegaskan bahwa ia tidak mendapatkan pahala sedikit pun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang betul-betul murni hanya untuk-Nya dan hanya mengharapkan wajah Allah.” (HR. An-Nasa’i)
Hadits ini berstatus hasan sahih sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Albani.
Pelajaran utama yang dapat diambil adalah perintah untuk berlaku ikhlas dalam seluruh amal saleh, termasuk dalam jihad di jalan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ . أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik).” (QS. Az-Zumar [39]: 2-3)
Ganjaran Hanya untuk Amal yang Ikhlas
Setiap pujian, sanjungan, dan balasan yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai suatu amal saleh hanya ditujukan bagi amal yang murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ganjaran, pahala, dan keutamaan tersebut tidak akan diperoleh kecuali oleh mereka yang beramal tanpa menyekutukan tujuan kepada selain-Nya.
Demikian pula dengan keutamaan jihad yang disebutkan dalam dalil-dalil syar’i. Keutamaan tersebut dikhususkan bagi mereka yang berjihad benar-benar hanya untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Selain itu, pelajaran penting dari hadits tersebut adalah prinsip berilmu sebelum berucap dan beramal. Hal ini tercermin dari sikap seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mendapatkan kejelasan hukum sebelum melakukan suatu tindakan.
Prinsip ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya, yaitu sebuah bab mengenai kewajiban berilmu sebelum berucap dan berbuat:
العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالعَمَلِ
“Berilmu sebelum berkata dan beramal.”
Seseorang harus memiliki landasan ilmu yang benar sebelum berbicara maupun bertindak. Tanpa ilmu, ucapan dan perbuatan seseorang dikhawatirkan akan salah kaprah, menjadi sia-sia, serta tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesadaran untuk bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjukkan bahwa ilmu adalah syarat utama agar amal sesuai dengan syariat.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56201-hakikat-islam-dan-iman/